Samarinda – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) masih menjadi pusat produksi batu bara nasional, bahkan ketika tren ekspor mengalami penurunan tajam pada kuartal pertama 2025.
Pengelola Izin Usaha dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Daevrie Zulkany, menyebutkan bahwa hingga saat ini aktivitas pertambangan di daerah tersebut masih berjalan normal. “Produksi tetap tinggi. Hampir 67 persen produksi nasional berasal dari Kaltim,” ungkapnya, dikutip dari Antara Kaltim, Senin (15/7/2025).
Menurut Daevrie, meskipun terjadi penurunan permintaan ekspor dari beberapa negara tujuan utama, seperti China dan India, tidak ada penurunan signifikan dari sisi kegiatan tambang. Ia juga membandingkan situasi saat ini dengan krisis pada 2021, ketika lalu lintas tongkang batu bara sempat nyaris berhenti total di Sungai Mahakam.
“Kondisi sekarang masih aman, tidak separah 2021. Perusahaan sudah jauh lebih siap,” ujar Daevrie, seperti dilansir dari AntaraKaltim.
Sementara itu, laporan Bank Indonesia yang dikutip dari CNBC Indonesia menunjukkan bahwa nilai ekspor batu bara nasional pada kuartal pertama 2025 merosot hingga 27–28 persen. Turunnya permintaan global dan harga batu bara disebut sebagai faktor utama.
(Sumber: CNBC Indonesia – 15 Juli 2025).
Dinas ESDM juga tengah mendorong perusahaan tambang di Kaltim untuk memperkuat program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program ini diwajibkan untuk memberikan manfaat sosial dan ekonomi jangka panjang kepada masyarakat sekitar tambang.
“Jangan sampai tambang selesai, masyarakat tidak punya alternatif ekonomi. Maka PPM sangat penting,” tegasnya
Penulis : AGP
Editor : Redaktur
Sumber Berita : Antara






